Setiap menaiki kendaraan umum, terutama metromini, seringkali kita didatangi pengamen jalanan. Dalam satu kali perjalanan saja, bisa lebih dari dua pengamen datang. Sekarang pengamen di Ibu kota mulai membludak, membuat kota Jakarta tidak lepas dari pemandangan ini. Menurut saya, tujuan mengamen adalah menghibur orang lain untuk mendapatkan penghasilan. Saya senang melihat pengamen yang kreatif menampilkan sesuatu yang berbeda dan menarik. Pengamen seperti itu justru membuat banyak orang tertarik untuk datang dan memberikan sebagian uangnya. Misalnya suara pengamen dengan alunan gitar yang bagus, membuat orang terpesona dengan penampilannya, atau pertunjukan-pertunjukan hiburan seperti yang saya liat di televisi.
Namun sekarang, fungsi mengamen telah berubah, mengamen kini identik dengan meminta-minta dan memaksa. Saya pernah berada dalam kendaraan umum yang sedang sepi, kemudian datang pengamen yang hanya berbicara di hadapan penumpang. Setelah selesai dengan "pidato" kecilnya itu, mereka meminta uang kepada penumpang. Ketika itu saya tidak memberi mereka uang, namun mereka memaksa, mereka berkata bahwa mereka belum makan. Saya pun merogoh saku dan menemukan satu lembar uang duaribuan, itu pun hanya cukup untuk membayar metromini. Selain itu saya tidak punya uang receh lagi. Mereka tetap memaksa, "Neng, kami anak jalanan cuma dapet penghasilan dari sini. Kalo eneng kan setiap hari bisa dapet duit dan makan. Limaribu cukup neng, buat makan.." Kebetulan penumpang yang lain juga tidak memberi uang, pengamen-pengamen itu marah dan meludahi salah satu penumpang yang duduk di belakang seraya berkata dengan ketus, "Dasar orang-orang pelit! Mentang-mentang berduit! Duit kagak dibawa mati!!"
Kalau saya memberi mereka uang, kemudian datang lagi pengamen yang lain, setelah itu mereka pergi, datang lagi pengamen selanjutnya, uang saya tentu akan habis di jalan. Apalagi saya hanya anak sekolah. Kemudian saya berpikir lebih luas lagi, kalau saya memberi mereka uang, lalu orang lain memberi mereka uang, di angkutan umum lain mereka juga mendapat uang lagi, berapa penghasilan mereka dalam sehari? Mungkin memang tidak terlalu banyak, namun dengan pemberian kita tersebut, justru menyebabkan semakin banyaknya pengamen di Jakarta.
Lucunya, ada pengamen yang tidak cacat namun ketika memasuki metromini, mereka bergaya cacat dan menyanyi ala orang cacat untuk mengundang simpati penumpang. Ketika mereka turun, posisinya sudah seperti semula, tidak lagi bergaya seperti orang cacat. Masyaallah, sudah diberi sehat malah berpura-pura cacat untuk mendapatkan belas kasihan orang lain. Pengamen dengan pengemis kini berbeda tipis. Siapapun bisa menjadi pengamen, sekalipun mereka tidak mahir bernyanyi. Nah, yang sekarang mengamen di Ibu Kota itu adalah pengemis yang mengamen di Metromini. Bagaimana tidak? Mereka lebih mementingkan bagaimana membuat mereka dikasihani daripada bagaimana membuat penumpang terkesan. Diakui atau tidak, kalau pengamen semakin membludak, tentu saja warga Jakarta akan semakin sumpek. Ini juga menimbulkan citra buruk wajah Jakarta untuk wisatawan asing.
Namun tidak semua pengamen demikian. Jarang sekali saya temui pengamen yang berpenampilan bersih dengan suara bagus dan tidak ada paksaan. Pengamen seperti itu kutemui satu kali ketika hendak pulang kerumah menggunakan metromini. Pengamen tersebut menggunakan kacamata, seperti mahasiswa saja. Ia bernyanyi lagu "Butiran Debu", dengan suaranya yang indah. Menurut saya, suaranya seperti Sammy Simorangkir. Setidaknya, pengamen yang seperti ini tidak memalukan dan tidak menggunakan kekerasan. Ketika saya tanyai, ternyata tujuan dia mengamen adalah untuk mencari dana. Pengamen berpenampilan rapi itu mempunyai project di bulan suci untuk berbagi kasih, sehingga ia mengamen untuk mencari dana. Tujuan yang sangat mulia, ya.
Harapan saya, Jakarta bisa terlihat bersih dan rapi. Bayangkan saja kalau kita menggunakan pakaian yang kotor, tentu saja kita tidak akan merasa nyaman. Berbeda dengan pakaian yang bersih dan wangi, kemanapun kita pergi, kita tetap merasa nyaman dan percaya diri. Begitu pula dengan kota Jakarta tercinta ini, bagaimanapun Jakarta harus tampak bersih, bukan hanya dari lingkungan, tapi juga terlihat dari kondisi sumber dayanya.
No comments:
Post a Comment